Turki mengenang Adnan Menderes, korban kudeta 58 tahun lalu

TURKINESIA.NET – SEJARAH. “Semoga Allah melindungi bangsa kita,” 58 tahun berlalu sejak Adnan Menderes mengucapkan kata-kata terakhir sebelum berjalan ke tiang gantungan. Dia merupakan perdana menteri pertama Turki yang terpilih secara demokratis dan menjadi korban kudeta militer untuk pertama kalinya di republik tersebut.

Pada hari Senin [16/09], sebuah upacara untuk mengenang Adnan Menderes diselenggarakan di makamnya di distrik Topkapi Istanbul. Upacara tersebut dihadiri oleh pejabat tinggi termasuk Menteri Dalam Negeri Süleyman Soylu.

Menderes dimakamkan di sebelah Fatin Rüştü Zorlu dan Hasan Polatkan, dua menterinya yang turut digantung oleh junta militer sehari sebelumnya, tahun 1961, satu tahun setelah junta militer merebut kekuasaan.

“Kudeta tahun 1960 dan menyusul eksekusi setelahnya merupakan salah satu insiden paling tertutup dalam sejarah politik Turki. Tidak ada yang meminta maaf dan para pelaku lolos tanpa hukuman. Ini adalah tragedi mengerikan dan tindakan tidak manusiawi,” kata Soylu di makam Menderes.

Dia juga menyesalkan bahwa Turki tidak mengambil pelajaran dari kudeta pertama dalam sejarah Republik dan sebaliknya, merayakannya untuk sementara waktu sebagai hari kebebasan. “Jadi, kami melihat lebih banyak terjadi kudeta dan upaya kudeta di tahun-tahun berikutnya,” katanya.

Kudeta tersebut mendorong militer Turki untuk melakukan seragkaian kudeta di tahun-tahun berikutnya. Sepuluh tahun setelah Menderes dieksekusi, para jenderal mengeluarkan sebuah memorandum yang memaksa Perdana Menteri Süleyman Demirel mengundurkan diri. Pada 1980, kekacauan sosial melanda Turki antara kelompok sayap kiri dengan kelompok sayap kanan, lalu memberi militer kesempatan lain untuk “mengambil alih kekuasaan”. Kudeta lainnya terjadi pada 1997. Baru pada tahun 2016 Turki bersatu untuk menentang keras kudeta oleh Gülenist Terror Group (FETÖ) yang menyusup ke tubuh militer dan mencoba merebut kekuasaan, dan akhirnya berhasil menggagalkannya.

“Orang-orang (Menderes dan rekan-rekannya) ini tidak melakukan kejahatan apa pun. Eksekusi mereka ilegal. Itu adalah pekerjaan geng, hasil dari persidangan palsu,” kata Suleyman Soylu. “Demokrasi Turki adalah korban pembunuhan 58 tahun yang lalu,” tambahnya. [Daily Sabah]

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Share via