Toleransi beragama di era Ottoman

TURKINESIA.NET – Di saat Sultan Muhammad Al-Fatih turun dari kudanya dan memasuki Hagia Sophia, ia menemui umat Kristen yang tidak ikut berperang dan sedang bersembunyi di dalam gereja. Kala itu, ia mendekati wanita dan anak-anak yang sedang ketakutan.

“Jangan takut, kita adalah satu bangsa, satu tanah dan satu nasib.Kalian bebas menjaga agama kalian,” ujarnya dengan ramah dan disambut gembira umat Kristiani. Kisah menarik ini digambarkan dalam film “Fetih 1453” karya sutradara Turki, Faruk Aksoy.

Pada hari ditaklukkankan Konstantinonel Sultan Al-Fatih (yang berjuluk Sultan Mehmed II) hari Selasa 27 Mei 1453 memasuki kota itu, dan turun dari kudanya kemudian bersujud syukur kepada Allah. Beliau pergi ke Gereja Hagia Sophia (Aya Sofia, Turki) dan memerintahkan mengubahnya menjadi masjid. Hari gereja itu lantas diubah menjadi masjid dan digunakan shalat Jumat.
Selama hampir 500 tahun Hagia Sophia berfungsi sebagai masjid. Patung, salib, dan lukisannya sudah dicopot atau ditutupi cat.

Pada tahun 1937, Mustafa Kemal Atatürk mengubah status Hagia Sophia menjadi museum.  Bangunannya dibongkar dan direnovasi.

Sejak saat itu, Gereja Hagia Sophia dijadikan salah satu objek wisata terkenal oleh pemerintah Turki di Istambul.

Sampai hari ini, di dalam Hagia Sophia masih terdapat surat-surat dari khalifah Utsmaniyah yang berfungsi untuk menjamin, melindungi, dan memakmurkan warganya ataupun orang asing pembawa suaka. Setidaknya terdapat sekitar 10.000 sampel surat yang ditujukan maupun yang dikeluarkan kepada kholifah. Melalui Sultan Muhammad Al-Fatih,  umat Nasrani  merasa aman. Kebebasaan keyakinan mereka terjaga.

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Share via