Tokyo Camii: Masjid termegah di Jepang yang dibangun Turki

TURKINESIA.NET – SEJARAH. Masjid Tokyo atau Tokyo Camii merupakan sebuah masjid yang sangat megah di Jepang dengan sejarah yang cukup panjang. Masjid ini terletak di antara blok apartemen di lingkungan perumahan yang tenang di Yoyogi Uehara.

Awalnya, masjid ini dibangun oleh kaum imigran Tatar dan Bashkir pada 1930 dan selesai tahun 1938. Pembuatan dengan arahan Abdurreshid Ibrahim, Imam pertama masjid, dan Abdülhay Kurban Ali.

Samee Siddiqui dari Al Jazeera pernah menyampaikan laporan mengenai budaya Muslim di Jepang. Menurut laporan itu, pembangunan ulang Masjid Tokyo yang ada saat ini selesai pada tahun 2000, tetapi masjid tersebut memiliki sejarah yang jauh lebih lama. Berawal pada tahun 1930-an ketika Jepang pertama kalinya mengalami peningkatan populasi Muslim yang signifikan dan masjid pertama didirikan, inilah titik awal dari pembangunan Tokyo Camii yang ada sekarang. Di antara masjid lain yang dibangun saat itu adalah Masjid Nagoya, dibangun pada 1931. Lalu disusul Masjid Kobe empat tahun berikutnya. Kedua masjid tersebut dibangun oleh komunitas Muslim pendatang asal India.

Para migran Muslim Tatar yang melarikan diri dari revolusi Rusia membentuk kelompok etnis terbesar di Jepang sejak tahun 1930-an. Mengutip Tirto, Kaum Tatar dan Bashkir merupakan orang-orang keturunan Turki yang semula menetap di negara-negara Eropa Timur, termasuk Rusia, Uzbekistan, Kazakhstan, Ukraina, Tajikistan, Kirgizstan, Turkmenistan, serta Azerbaijan. Mereka melarikan diri setelah Revolusi Bolshevik di Rusia sejak 1917, di antaranya menuju Jepang.

Pada tahun 1986, masjid harus dihancurkan karena kerusakan struktural yang parah. Di bawah arahan dan dukungan Ototitas Keagamaan Turki, sebuah bangunan baru didirikan kembali pada tahun 1998. Arsitek untuk bangunan tersebut adalah Muharrem Hilmi Senalp. Ornamen didasarkan pada arsitektur religius Ottoman.

Masjid ini dibangun dengan ornamen khas Ottoman, sebagian besar bahannya didatangkan langsung dari Turki. Pemerintah Turki melalui perwakilannya di Jepang menanggung seluruh biaya rekonstruksi masjid ini yang menghabiskan dana sekitar 1,5 miliar yen atau sekitar 190 miliar rupiah dengan kurs saat ini.

Sekitar 70 pengrajin Turki melakukan perincian finishing, dan sejumlah besar marmer diimpor dari Turki. Konstruksi selesai pada tahun 2000 dengan biaya sekitar 1,5 miliar yen (saat itu). Peresmian penggunaan diadakan pada tanggal 30 Juni 2000.

Tanggal 30 Juni 2000, sebagaimana dilansir The Japan Times edisi 1 Juli 2000, pembangunan ulang Masjid Camii selesai dan diresmikan penggunaannya. Kompleks Masjid Camii di Tokyo sangat mendukung perkembangan muslim di Jepang. Islamic Center of Japan (IJC) sebuah lembaga Muslim pasca Perang Dunia II yang didirikan pada tahun 1966 turut mengelola masjid ini, termasuk dengan membuka Yuai International School yang menyelenggarakan kelas-kelas pembelajaran Alquran, pendalaman ajaran Islam, pelatihan kaligrafi, bahkan kelas bela diri. Sekolah Internasional Yuai di Masjid saat ini menawarkan kelas hari Sabtu.

Masjid Camii di Tokyo didirikan di atas lahan seluas 1.477 meter persegi. Dengan ukuran 734 meter persegi, masjid ini memiliki 4 lantai, dengan 1 lantai di bawah tanah. Tinggi kubah utamanya adalah 23,25 meter dan ditopang oleh 6 pilar dengan menara setinggi 41,48 meter. Masjid ini diketahui dapat menampung sekitar 1.200 jemaah yang beribadah di hari-hari besar umat Muslim seperti awal Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha.

Masjid Tokyo yang halaman depannya dikibarkan bendera Turki dan Jepang, selain menjadi tempat berkumpulnya komunitas muslim di Jepang, ia juga berfungsi sebagai pusat budaya Turki di negeri sakura tersebut. Di lingkungan kompleks Masjid Tokyo juga didirikan sekolah keagamaan serta dijadikan sebagai pusat kebudayaan Islam.

Pada perkembangannya, masjid ini tidak hanya digunakan sebagai pusat peribadatan dan pengajaran agama Islam, namun juga difungsikan untuk berbagai keperluan lainnya, seperti pameran, konferensi, pertunjukan, pernikahan, ajang peragaan busana, serta tempat tujuan wisata religi di Jepang. Bahkan masjid ini telah menjadi bagian dari obyek wisata budaya di Jepang. Turis lokal umumnya penasaran terhadap Islam. Mereka memperhatikan orang salat dari belakang sambil duduk bersimpuh. Kerap pula ikut makan bersama jemaah seusai salat Jumat yang memang disediakan pengurus masjid.

Di masjid ini disediakan juga ruang untuk penyambutan tamu, baik rombongan maupun perorangan. Tamu diterima di sebuah ruangan di lantai dasar bagian kiri masjid. Ruangan ini dilengkapi dengan meja dan kursi yang disusun seperti restoran. Berbagai suvenir dan buku kecil tentang Islam tersedia di ruang yang sama. Fasilitas ini juga berfungsi untuk pengajian dan acara ijab kabul pernikahan antarwarga muslim.

Khusus untuk pengunjung museum, layanan dibuka mulai pukul 10.00 sampai 05.30. Mereka yang bukan muslim bebas masuk masjid. Bagi perempuan diminta memakai kerudung yang disediakan pengurus masjid dan tentu saja melepas sepatu atau sandal.

Ibadah juga biasa dilakukan setiap hari Jumat dan dapat menampung ratusan jemaah. Ibadah di masjid ini, dibawakan dalam tiga bahasa, yaitu Turki, Inggris, dan Jepang. Penggunaan tiga bahasa ini untuk menyesuaikan para jemaah yang tak hanya datang dari Jepang saja, namun juga dari Timur Tengah, Indonesia dan negara-negara Asia lainnya.

Pengelola Islamic Center of Japan (ICJ) Dr Musa Omer menuturkan, hingga 1970 hanya ada dua bangunan masjid di Tokyo. Kini, di kota itu terdapat 200 masjid, mushala, dan tempat-tempat lainnya yang secara temporer dapat digunakan sebagai tempat shalat. “Jumlah bangunan ibadah ini terus meningkat seiring bertambahnya jumlah umat Islam di Tokyo,” ujarnya. [Dari berbagai sumber: World Bulletin/Republika/Tirto/Tempo/Dream/Kumparan/Tribunnews]

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Share via