Surat lengkap Presiden Alija tentang pembantaian Bosnia

TURKINESIA.NET – SEJARAH. Setiap tanggal 11 Juli diperingati sebagai hari genosida (pembantaian massal) bangsa Bosnia oleh Serbia pada tahun 1992-1995.

Ustadz Hasbi Sen, seorang dai dari Turki yang sudah lama berdakwah di Indonesia, tidak mampu menahan tangis saat menerjemah surat Presiden Bosnia berikut ini:

Berikut saya sampaikan surat almarhum Presiden Bosnia, Aliya İzzetbegoviç tentang genosida tersebut. Saya terjemahkannya dengan meneteskan air mata. Silakan membaca. Setelah membaca saudara akan memahami kebiadaban dan kezaliman yang dilakukan Eropa terutama Serbia. Agak panjang mohon membaca dengan sabar. Selamat membaca kisah genosida Bosnia.

*****

Saya Aliya Izzetbegovic. Saya adalah presiden Bosnia. Saya ucapkan salam pada kalian dari Saraybosna (Sarajevo), salah satu kota indah Turki Usmani. Saya ingin membahas beberapa pengalamanku terkait dengan Eropa dan Barat yang sebenarnya dalam berbincangan ini.

Kami pun bagian dari Benua Eropa. Barangkali kalian tahu bahwa kakek saya bertugas sebagai tentara di Uskudar, Turki Usmani.

Beliau menikah dengan seorang gadis Turki disana, yaitu nenekku bernama Sidiqa. Dari pernikahan ini lahirlah ayahku, Mustafa.

Keluarga kami hidup di kota Bosanski Samac sampai tahun 1927. Kota ini dikhususkan kepada umat Islam pada masa sultan Abdul Aziz. Kota ini didirikan oleh orang-orang Bosnia yang datang dari Semendire. Ketika saya berusia 2 tahun kami pindah ke kota Sarajevo.

Saya lewati masa kanak-kanak dan sekolah saya di kota tersebut. Pada masa itu yang berkuasa di Yugoslavia adalah dinasti Corcevic. Dinasti ini adalah dinasti yang didirikan oleh Kara Corcevic yang memberontak kepada Turki Usmani. Corcevic adalah seorang yang berasal dari Serbia. Setelah Perang dunia I, Corcevic menjalankan sebuah strategi untuk melenyapkan masyarakat muslim secara sistematis. Dia mengambil alih tanah seluas 1 juta hektar secara paksa milik umat Islam dengan reformasi tanah. Banyak keluarga muslim yang kaya tiba-tiba kehilangan segala hal dalam satu malam. Umat Islam menjadi masyarakat yang miskin.

Ada 3 kelompok masyarakat yang hidup di Bosnia, yaitu umat Islam, suku Serbia dan suku Kroasia. Sebenarnya mereka tidak membedakan kami sebagi muslim, mereka menganggap kami sebagai orang Turki.

Di mata orang Serbia kami adalah bangsa Turki yang menaklukkan Bosnia pada perang Kosova tahun 1389. (apakah anda bertanya-tanya apakah ada hubungan antara 28 Juni 1389 dan 28 Juni 1914? Saya pikir ada hubungannya. Pasti anda ingat peluru yang dinyalakan oleh seorang
nasionalis Serbia bernama Gavrilo Princip pada 28 Juni 1914 di Sarajove menyebabkan pecahnya Perang Dunia I. Tujuan utama perang ini adalah menghancurkan Turki Usmani yang melawan para penjajah ketika itu. Mereka pun berhasil
).

Ketika anda bertanya kepada orang Bosnia ada tiga tanggal yang sangat penting dalam memori sejarahnya. Pertama adalah tahun 1918. Kedua, tahun 1878 dimana Turki Usmani mulai mundur dari Bosnia dan Kerajaan Avustria dan Hungaria mulai berkuasa. Ketiga, tahun 1908 dimana kekuasaan Turki Usmani berakhir di Bosnia dan gambar sultan Abdul Hamid II diturunkan serta gambar raja Kerajaan Avustria dan Hungaria dipasang. Ayahku selalu menceritakan hari-hari itu dengan berlinangkan air mata. Karena sejak 1908 kami mengalami banyak kesulitan.

Suku Serbia dan Kroasia memutuskan untuk membagi negara kami menjadi dua sebelum perang dunia II. Siapa yang memiliki penduduk yang lebih banyak di sebuah kota akan memiliki kota tersebut. Jika lebih banyak orang Serbia, maka kota tersebut milik negara Serbia. Jika orang
Kroasia yang lebih banyak, maka milik neg
ara Kroasia. Masyarakat akan disensus tanpa dihitung masyarakat Turki (Bosnia). Yang anehnya masyarakat yang banyak di Bosnia adalah orang Turki. Kami mengalami pertikaian kedua setelah selasai perang Dingin dan bubarnya negara Yugoslavia. Waktu yang paling menyedihkan, paling zalim dan paling miskin adalah hari-hari yang penuh penderitaan pada masa 1992-1995. Apalagi juli 1995 yang terjadi hilangnya kehormatan manusia secara total, lenyapnya hati nurani dan matinya rasa kemanusiaan.

Siapakah Orang Bosnia? Jika anda bertanya kepada orang Serbia dan Eropa yang melindungi mereka (Serbia), maka orang Bosnia adalah orang Turki yang berusaha menyebarluaskan Islam di Eropa. Jika anda bertanya kepada orang Turki bahwa siapa itu orang Bosnia, maka mayoritas mendefinisikannya sebagai sebuah ras Slavia yang memeluk Islam. Bagi saya ras itu tak penting. Apalagi setelah apa yang kami alami antara 1992 dan 1995, makna orang Bosnia sangatlah berubah. Jika saya mendefinisikan orang Bosnia dengan “bangsa yang melawan penjajah yang berusaha menjajah budaya, agama dan identitasnya dengan nyawa taruhannya”, apa komentar kalian? Di mata saya para pejuang yang datang dari Turki untuk membela kami adalah orang Bosnia. Orang-orang bangsa lain yang merasakan kepedihan di hatinya ketika mendengar Bosnia juga merupakan orang Bosnia.

Apa yang leluhur kami usahakan dalam menjaga Canakkale dan Yaman delapan tahun lalu itulah yang kami juga upayakan dalam menjaganya di Sarajevo. Kami bertahan untuk menjaga idealisme hidup bersama dalam persaudaraan dan rasa kemanusiaan terhadap para penjajah yang memanfaatkan agama, bahasa, ras dan mazhab demi mencapai tujuan penjajahan mereka. Idealisme ini bernama Bosnia. Bangsa Bosnia dicekik, dibunuh, dibiarkan kelaparan, diperkosa, diisolasi dan ditinggalkan agar mati.

Saya tak bisa melupakan hari itu: terkait adanya kepastian bubarnya Yugoslavia. Slovenia dan Kroasia mengumumkan kemerdekaannya, lalu negara-negara Eropa langsung mengakui  mereka. Kami menginginkan sebuah negera yang di dalamnya bangsa Bosnia, Kroasia dan Serbia hidup damai.

Namun bangsa Serbia tidak berpikir seperti kami. Mereka merencanakan negera Yugoslavia lanjut dengan nama Serbia raya di bawah kekuasaan bangsa Serbia secara penuh tanpa Yugoslavia pecah. Mereka merencakan hilangnya identitas kami dan tidak mengaggap kami sebagai manusia. Mereka merampas semua senjata tentara Yugoslavia dan kendaraan milik
intelijen Yugoslavia.

Ketika kami ingin mengumumkan kemerdekaan Bosnia, Eropa meminta kami melakukan referendum. Rakyat Bosnia memberikan suara 64% untuk kemerdekaan Bosnia. suku Serbia dan Kroasia pun terlibat dalam referendum tersebut. Kami dalam posisi benar tapi tentara Serbia mulai menguasai negara kami pada hari itu. Kami tak memiliki senjata. Tak ada tank, peluncur roket, pesawat tempur untuk membombardir. Semuanya dirampas oleh mereka. Kami mengajukan permohonan kepada PBB.

Kami meminta keadilan, hak, demokrasi, kebebasan yang Amerika dan Eropa menyeru dan menuntut mereka menjaga prinsip-prinsip yang mereka buat dan klaim eksistensinya. Kami tidak mengemis bantuan, uang atau senjata. Kami hanya meminta beberapa kebijakan yang melindungi masyarakat kami yang tak memiliki senjata dan tanpa perlindungan. Karena PBB didirikan untuk hal tersebut. Disamping itu, tujuan pendiriannya adalah menjaga perdamaian dan demokrasi serta mencegah terjadinya genosida. Anggota PBB berkumpul dan memutuskan ” kami tak ingin perang itu bertambah.” Mereka melakukan embargo untuk penjualan senjata. Apa maksud dari semua ini? Maksudnya adalah Semua orang Serbia bersenjata, namun orang Bosnia yang membela dirinya dilarang membeli senjata akibat ambargo tersebut.

Eropa dan Amerika menyerahkan masyarakat muslim Bosnia dalam keadaan tanpa daya kepada musuhnya. Kami mengalami “neraka” selama 1200 hari baik siang maupun malam. Kami menantikan Eropa dan Amerika mendengar suara kami selama 1200 hari.

Setiap hari mereka menipu kami. Ketika kami menyadari bahwa setiap kali kami pergi untuk sebuah rapat sebenarnya itu merupakan usaha persiapan kesempatan yang lebih luas buat musuh kami. Ketika itulah saya mengerti apa arti Eropa. Bagi mereka kami tak ada. Sebuah
masyarakat yang berada di tengah-tengah Eropa dibiarkan dalam kondisi sulit di hapadan para pembunuh hanya karena mereka orang-orang Islam dan mereka mencari hak mereka dengan demokrasi.

Saya sudah mengingatkan akan terjadinya perang dalam waktu dekat. Tetapi saya harus mengakui bahwa tak pernah berpikir akan terjadinya genosida sebuah bangsa pada abad ke-20 di hadapan Eropa dalam kondisi pembiaran oleh Eropa (Genosida adalah genosida). Saya pernah mendengar presiden Francis, Francois Mitterand mengatakan “saya menganggap apa yang terjadi disana tidak perlu dipandang dengan serius” tentang genosida Rwanda yang menyebabkan 1 juta orang tewas pada waktu hampir bersamaan dengan Bosnia. Memang disana adalah Afrika yang dijajah oleh Francis dan İnggris. Saya pun tahu Francis dan İnggris tak peduli dengan Afrika. Saya berpikir mereka akan merasa bertanggungjawab karena kami berada di Eropa (namun saya keliru).

Lalu apa yang terjadi pada Bosnia? Bosnia telah dikepung oleh tentara Serbia. Masyarakat Bosnia melakukan perlawanaan yang jarang ditemui dalam sejarah. Kami berusaha membuat senjata kami sendiri, bom dan peluncur roket yang terbuat dari pipa besi. Tetapi tak pernah memiliki tank. Sangatlah sulit untuk kami jelaskan kepada orang yang tidak mengalami perang. Tak mungkin anda memahaminya. Bayangkan sebuah kota yang dikelilingi gunung ditembak
dari segala penjuru. Sebuah pemahaman yang membolehkan aksi tembak segala sesuatu yang bergerak tanpa membedakan anak, wanita atau orang tua. Coba bayangkan apa yang terjadi di sebuah kota yang dihujani 700.000 peluru dari senjata berat. Bayangkan pula bagaimana semua bahan, makanan, dan air habis di kota kami, tidak ada listrik dan gas, tidak ada batu bara dan kayu untuk menghangatkan badan. Bahkan kami tidak boleh keluar – masuk kota.

Ini adalah sebuah pengepungan. Anak-anak dan orang-orang tua kami meninggal akibat kelaparan. PBB mengirim kami makanan kaleng dan beras yang sudah berusia 30 tahun alias kadaluwarsa sebagai bantuan. Ketika kami letakkan makanan kaleng itu di jalan, anjing pun melarikan diri karena mencium baunya dalam keadaan kaleng-kalengnya yang masih tertutup. Berita paling pedih yang saya dapat sebagai pemimpin perang adalah pemerkosaan yang dilakukan terhadap wanita dan remeja perempuan kami. Kami mendapat berita itu dari seluruh Bosnia. Ini sebuah perintah pasti yang disampaikan kepada tentara Serbia. Hal ini merupakan perencanaan yang diatur oleh pejabat Serbia sebagai bagian dari genosida yang ditulis teorinya oleh para intelektual Serbia. Pada satu hari kami mendapat informasi bahwa ada 3000 orang saudara kami yang dibunuh dengan mencekik lehernya dan dilemparkan ke sungai di Bicko. Pada hari yang lain genosida dilanjutkan di Kosaraz, lalu di Prijedor, kemudian di seluruh Bosnia.

Sebenarnya kami bukan musuh bangsa Serbia. Kami mempertahankan idealisme hidup bersama terhadap para pemimpin Serbia yang tak mau hidup bersama. Namun bangsa Serbia memusuhi seluruh bangsa Bosnia. Meskipun berada di perang kami harus bertindak sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an sebagai muslim yang taat. Kami pun melakukan hal itu. Terkait hal tersebut saya bisa katakan dengan bangga dan kehormatan Islam serta manusia. Orang-orang Serbia menghancurkan kuburan orang Bosnia karena mereka tak bisa menahan diri ketika melihat kuburan. Bahkan tidak hanya kuburan, tetapi mereka pun menghancurkan sejarah dan peninggalan kami. Serbia menghancurkan jembatan Mostar yang sangat berharga, membakar perpustakaan Nahit yang dibangun dengan arsitek Eropa di Sarajevo. Apa perlu saya sebutkan 1300 masjid yang
dihancurkan oleh mereka? Apa yang dilakukan oleh negara besar seperti Francis, İnggris dan Rusia ketika menyaksikan 200.000 orang Bosnia meninggal, wanita dan anak-anak diperkosa, banyak orang meninggal akibat kelaparan dan ratusan ribu orang harus meniggalkan tempat tinggalnya? Ketika kami meminta pembatalan ambargo terhadap kami dari mereka, komisi keamanan PBB
mengadakan rapat dan permintaan kami ditolak oleh negara-negara tersebut yang modern dan demokrat (!).

Saya bisa memaafkan kriminal yang dilakukan oleh Serbia dan negara-negara Eropa kepada saya dan tentara saya. Tetapi coba sebutkan rasa sabar, hati nurani dan keyakinan mana yang bisa memaafkan perlakuan mereka kepada wanita dan remeja perempuan kami. SAYA TAK AKAN MEMAAFKAN.

Setelah apa yang saya ceritakan di atas, saya tidak mengatakan bahwa Eropa tidak mengintervensi genosida yang terjadi di Bosnia. Jangan salah dipahami. Mereka mengintervensi genosida ini secara langsung dan dalam bentuk sangat efektif. Mereka menbantu Serbia semampu mereka di balik tabir. Mereka membiarkan Bosnia dalam keadaan tak berdaya dan
akhirnya menonton genosida muslim yang mereka siapkan landasannya. Ketika anda berkeliling di Sarajove dan Mostar, anda akan menyaksikan bahwa tidak ada taman di kota-kota kami. Semua taman berisi tempat istirahat terakhir para syuhada. Salah satu pekerjaan yang orang Bosnia pandai lakukan adalah membuat batu nisan. Anda akan menyaksikan maksud ungkapanku tersebut ketika anda
mendapati taman pahlawan yang ada di setiap sudut kota.

Meski saya ingin dunia ingat Bosnia dengan perlawanannya yang luar biasa dan terhormat itu, “rasa pedih” yang tersimpan dalam hati kami terlihat di wajah kami. Tolong jangan berpikir bahwa anda harus merasa kasihan terhadap kami lantaran ucapan ini, bahkan jangan mengasihani kami. Karena rasa pedih yang saya sampaikan hanya bisa dipahami oleh  orang Bosnia dan sebuah perasaan yang dihayati oleh mereka dengan sebenarnya. Kami bukanlah sebuah bangsa yang perlu dikasihani. Namun sebaliknya, kami berjalan dengan rasa bangga dalam setiap langkah kami.

Saya ingin sampaikan poin terakhir yang terkait dengan Bosnia. Saya akan bercerita peristiwa Srebrenica yang diketahui secara dangkal oleh kebanyakan orang. Yaitu genosida yang terjadi pada hari-hari yang paling hina dan zalim yang seseorang alami dalam hidupnya. Yakinlah,
seandainya anda menceritakan neraka yang dijelaskan oleh Allah SWT dalam al-Qur’an kepada ribuan orang Bosnia yang berada di Srebrenica, pasti mereka melakukan segala acara untuk berlindung di neraka itu. Namun mereka tidak berkesempatan untuk mendapatkan neraka. Srebrenica adalah sebuah kota kami yang berdekatan dengan perbatasan Serbia.
Ketika perang masih berlanjut, PBB mengumumkan kota tersebut sebagai “zona aman” dan menempatkan satu pasukan militer dari Belanda di kamp militer Potocari yang berjarak 5 km dari Srebrenica. Mohon jangan kalian anggap sebagai suatu peristiwa yang terjadi ratusan tahun lalu. Itu merupakan tragedi baru yang terjadi 20 tahun (23 tahun) lalu dan dampaknya masih berlanjut hingga sekarang.

Zona aman tersebut disteril dari senjata sesuai dengan “Prinsip-prinsip Eropa”. Saudara-saudara kami menyerahkan senjatanya dengan rasa percaya kepada Eropa dan mendapatkan perlindungan instansi NATO dan UN. Tetapi pasukan Serbia mengepung Srebrenica di bawah komando Radko Mladic pada bulan juli 1995. Mereka bergerak dari gunung dan mulai menembak masyarakat sipil dengan tank dan meriam. Sebelumnya masyarakat Bosnia yang ada di sekitar Srebrenica berkumpul di kota tersebut karena adanya zona aman di Srebrenica. Jumlah penduduknya meningkat berlipat ganda. Jangankan ada tempat tidur di rumah,
jalanpun digunakan untuk tidur. Makanan pun mulai habis. Mladic menembak masyarakat yang tidak bersenjata dan tanpa perlindungan ini dengan sebuah rencana yang tak mungkin dibuat oleh manusia.

Ribuan orang Bosnia berlindung di kamp militer UN yang terdapat di Potocari untuk menyelamatkan nyawa. Kota dikosongkan dan sekitar 20 ribu orang yang tak bersalah melarikan diri ke sekitar kamp militer tersebut. Sebagian yang lain mampu melarikan diri ke arah Tuzla melalui hutan untuk menyelamatkan diri. Ketika Mladic bersama asukannya masuk ke Srebrenica mereka menyaksikan rumah-rumah yang terbakar, masjid-masjid yang runtuh dan sekolah-sekolah yang hancur. Tidak ada satupun manusia di jalanan. Mladic berjalan dalam keadaan gembira sambil berbicara “akhirnya kami bisa membalas dendam terhadap orang Turki, inilah saatnya mengusir mereka dari Eropa secara total.”
Dia juga mengucapkan selamat kepada tentaranya.

Jika anda pergi ke Jerman dan melihat wajah seorang Jerman yang anda temui di jalan, apakah anda percaya bahwa kejadian yang dilakukan pada masa genosida yahudi dilakukan manusia itu? Saya tak bisa percaya sebagaimana saya tak percaya bahwa orang Serbia melakukan apa yang terjadi di Srebrenica. Tetapi mereka melakukannya. Mladic mendatangi kamp militer. Dia meminta semua warga sipil yang berlindung di kamp militer diserahkan kepadanya. Pimpinan kamp militer yang bertugas sebagai pelindung masyarakat yang memohon perlindungan tanpa senjata itu menerima permintaan itu tanpa ada perlawanan.

Sekarang tutuplah mata anda dan bayangkan bagaimana 20 ribu orang yang terdiri pria, wanita, anak dan lanjut usia itu memohon bantuan seraya berkata “jangan serahkan kami, mereka akan membunuh kami.” Bukankah suara ini sangat menyedihkan? Sepertinya inilah yang namanya padang mahsyar. Apakah anda punya pendapat harus sebesar apa menjadi orang zalim yang tak peduli dengan suara ini? Jika anda tidak punya, sejarah punya pendapat: cukup menjadi seperti Jenderal Bernard Janvier (dari Perancis), komandan misi perdamaian PBB untuk Bosnia dan jenderal Tom Karremans yang menjadi pemimpin pasukan militer Belanda. Dua orang ini yang tidak melakukan sebuah langkah untuk melindungi zona aman
menyerahkan 20 ribu warga sipil yang tak bersalah itu kepada Mladic. kita Semua mengetahui bahwa ada pesawat-pesawat tempur yang berangkat dari pusat NATO, namun ketika sampai di Itali pesawat-pesawat itu disuruh pulang kembali.

Apa yang terjadi disana pada hari itu? Sebelumnya pernah saya katakan kami bisa memaafkan segala sesuatu, tapi kami tidak akan memaafkan apa yang dilakukan mereka terhadap wanita dan anak-anak kami. Bayangkan ada seorang anak laki-laki berusia 9 tahun dan dia bersama ibunya. Tentara Serbia mengarahkan senjata ke kepala anak itu dan
menyuruhnya untuk memperkosa ibunya sendiri yang sebelumnya sudah ditelanjangi. kemudian anak tersebut tidak menuruti keinginan tentara itu, dan akibatnya dia ditembak mati. Sementara tentara pasukan perdamaian belanda sedang asyik mendengar musik. Satu lagi, ada seorang wanita berpelukan dengan anak putrinya yang berusia 5 tahun. 2 tentara Serbia membuka tangan dan kaki wanita itu tanpa dilepas putrinya, tentara ketiga memperkosa wanita tersebut.

 Dalam kondisi tersebut komandan PBB minum bir bersama Mladic, pemimpin
pasukan
Serbia.

Seorang bayi menangis sebagaimana ribuan orang menangis. Ternyata suaranya menggangu tentara. Mereka berteriak dan menyuruh ibunya mendiamkan anaknya. Ibunya memeluk anaknya dan erusaha mendiamkannya namun tidak berhasil. Sehingga Tentara berkata “jika kamu tidak bisa, saya bisa membuatnya diam” sembari memotong lidah bayi tersebut ( apakah anda bisa bayangkan kondisi seperti ini).

Wahai anak-anak Bangsa Turki! JANGAN LUPA. Saya Aliya. Saya orang biasa dari warga Bosnia. Seluruh Eropa meninggalkan kami sendirian pada hari itu. Dalam 3 hari mereka membunuh 8000 orang Bosnia dan menguburkannya dalam kuburan massal. Mereka memperkosa ribuan wanita Bosnia dan menyebabkan ribuan anak nenjadi yatim. Kami tidak tahu berapa banyak saudara kami yang belum ditemui
kuburannya. Pertama kali mereka membuat barisan orang Bosnia dan mulai
menembak satu per satu. Coba bayangkan mereka diberi cangkul dan disuruh menggali tanah, kemudian kepalanya ditembak. Mereka merasa menembak satu persatu memakan waktu lama, akhirnya tentara menyuruh membuat lobang besar oleh 20, 30 atau 40 orang. Orang-orang Bosnia dilemparkan ke dalam lobang itu dan dihujani peluru.

Karena mereka (tentara) merasa banyak mengeluarkan peluru, akhirnya memakai metode lain. Mereka mengebom saudara-saudara kami yang dilemparkan ke dalam lobang, jasadnya hancur berkeping-keping. Kami tidak dapat menemukan kuburan itu, namun kupu-kupu yang dapat menemukannya. Kupu-kupu biru. Kupu-kupu yang hanya bisa makan tumbuhan yang tumbuh di atas kuburan masal. Oleh sebab itu kupu-kupu itu berkumpul di suatu tempat hingga kami mengetahui bahwa disana ada kuburan masal. Kemudian kami menggalinya dan membawa jasad para syuhada ke taman pahlawan yang ada di Potocari.

Kami tidak mengatakan bahwa “kami harus ada negara sendiri di Bosnia.”
Masyakarat serbia yang katakan harus ada negera tersendiri. Kami juga tidak mengatakan “hanya agama kami saja yang mesti ada di Bosnia.” Namun mereka mengatakannya. Kami pun tidak mengatakan “satu-satunya etnis yang harus ada di Bosnia adalah kami.” Tapi mereka katakan hal tersebut.

Yang kami perjuangkan di Bosnia adalah Piagam Helsinki, prinsip-prinsip demokrasi dan kebebasan yang dijelaskan Eropa kepada dunia dengan rasa bangga. Ketika kami kehilangan 200 ribu nyawa, ribuan wanita bosnia yang dibiarkan begitu aja dalam keadaan diperkosa oleh tentara yang membunuh suami mereka, bayi-bayi berusia 29 hari dibunuh, kami menyadari bahwa apa yang diungkapkan Eropa itu adalah BOHONG BESAR.

Ketika saya memperlihatkan kamp perkumpulan, pemerkosaan dan amborga beserta bukti-buktinya kepada presiden Amerika, George Bush, dia tunjukkan sebuah reaksi yang membuat saya paham bagaimana dunia ini diatur. Presiden Amerika melancarkan serangan kepada Iraq pada satu malam karena minyak, tetapi mengkamuflase dengan demokrasi, melakukan operasi militer bertahun-tahun di Afganistan, Pakistan, Afrika, Palestina dan India. George Bush mendengar apa yang saya sampaikan dan berkata satu kalimat saja ” Bosnia bukan masalah kami, itu urusan internal Eropa.”

Saya Aliya Izzetbegovic. JANGAN LUPA PENERUS BANGSA TURKI!
Para penjajah membuat semua prinsip-prinsip demi manfaat mereka dan mereka membuat sistem untuk menjaga manfaat mereka. Demokrasi, kebebasan, perdamaian dan toleransi yang mereka sebutkan terkubur dalam tanah di Sarajove, Srebrenica dan Mostar dengan kenangan yang sangat pahit. Kami tidak menceritakan kejadian ini kepada generasi baru kami agar mereka bisa tersenyum.

Tetapi engkau jangan lupa apa yang kami alami!  Mereka (para penjajah) sangat kuat dengan tentara, media dan instansi mereka. Takutlah dengan sifat bermuka dua mereka, bukan kekuatan mereka. Kami dibunuh, leher kami dicekik dan diperkosa karena kami adalah saudaramu. Kami dimasukkan dalam kubur dan dibinasakan karena karena memiliki memori yang sama denganmu.

Wahai Penerus Bangsa Turki, panji yang kami ingin jaga adalah panji yang dijaga di Yaman, Çanakkale, Palestina, Kirim, Ache dan Turkistan. Panji itu bukan panji sebuah agama, ras, bahasa atau mazhab. Panji itu adalah lambang kemandirian seorang manusia.

Jangan engkau jatuh di hadapan para penjajah. Kami adalah generasi penerus perlawanaan setelah di Çanakkale. Engkau menjadi generasi kebangkitan bukan lagi perlawanaan. Engkau hidup bukan untuk menjaga melainkan membuat aturan dunia. Jika engkau ada kamipun eksis. Jika engkau masih berdiri tegak kamipun bisa hidup.

Para penjajah menjalankan langkah pengusiran engkau ke Asia. Satu saat engkau dapat giliran. Pihak yang mempersiapkan diri untuk membinasakan engkau sejak 1000 tahun bekerja keras tanpa berhenti satu haripun.

Engkau orang Turki, bukanlah sebuah ras, agama atau mazhab. Ketika barat melancarkan perang Salib tidak menyebut orang Arab sebagai Arab, tetapi mereka sebut orang Arab dengan sebutan Turki. Ketika barat membunuh orang Kurdi di Çanakkale mereka tak sebutkan orang Kurdi, melainkan Turki. Ketika barat membutuhkan negara baru demi manfaat mereka, baru mereka katakan orang Arab kepada bangsa Arab. Mereka memisahkan engkau dengan mereka. Sekarang juga berusaha keras untuk memisahkan engkau dari orang Kurdi.

Wahai generasi penerus bangsa Turki! Kami adalah orang Bosnia, tetapi kamipun orang Turki. Engkapun orang Bosnia sesuai dengan tingkat perasaan apa yang saya merasakan dalam hatiku. Kami tidak memiliki sejarah yang memalukan dan kenangan yang perlu dirahasiakan. Kami menjadi orang yang memiliki hati nurani bukan karena tanggung jawab kepada orang serbia atau paksaan dari sebuah undang-undang, melainkan tuntutan dari agama, bangsa, Al-Qur’an, akhlak kami. Kami tidak campur tangan bahasa, agama dan mazhab sebuah bangsa sebagai tuntutan hati nurani kami bukan keinginan pihak tertentu. Kami tak pernah merusak kuburan orang lain, meruntuhkan tempat ibadah, memperkosa wanita, membunuh bayi mereka dengan mencekik.

Engkau harus eksis. Oleh sebab itu harus menjaga persatuan. Jangan bercerai berai karena rekayasa para penjajah. Wahai bangsa Turki, jangan lupa apa yang dilakukan kepada kami oleh Barat.

*Diterjemahkan oleh ust. Hasbi Sen dari Bahasa Turki ke dalam Bahasa Indonesia

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Share via