Thursday, April 25, 2019
Berita

Prancis dan Italia tetapkan Hari Genosida Armenia, Turki murka

805views

TURKINESIA.NET – ANKARA. Turki mengecam keras sikap Italia dan Prancis yang berusaha mengakui peristiwa 1915 di Armenia sebagai “genosida,” menekankan bahwa tuduhan itu tidak konsisten dengan fakta sejarah.

“Perancis adalah negara terakhir yang akan memberikan Turki pelajaran tentang genosida dan sejarah karena kami tidak melupakan apa yang terjadi di Rwanda dan Aljazair. Prancis perlu melihat ke dalam sejarah kelamnya sendiri,” Menteri Luar Negeri Mevlüt Çavuşoğlu mengatakan pada hari Jumat [12/04], setelah Presiden Prancis Presiden Emmanuel Macron memutuskan untuk mendeklarasikan 24 April sebagai hari peringatan “genosida Armenia” di Perancis.

Sebagaimana dilansir dari harian ternama Turki, Daily Sabah, pernyataan Menlu Turki yang disampaikan dalam Seminar Rose-Roth ke-99 Dewan Perwakilan NATO di Antalya merupakan tanggapan  atas pernyataan Sonia Krimi, seorang anggota parlemen Prancis. Krimi mengatakan bahwa kritik oleh Ketua Parlemen Mustafa Şentop mengenai langkah Prancis mengejutkannya.

Sentop menyatakan bahwa keputusan yang diambil oleh presiden Prancis hanya berfungsi untuk mempolitisasi sejarah dan kekhawatiran politik memicu tuduhan yang tidak berdasar tersebut.

Turki tidak dapat menerima tuduhan genosida tetapi mengakui bahwa ada korban di kedua belah pihak selama peristiwa Perang Dunia I. Ankara telah berulang kali mengusulkan pembentukan komisi gabungan para sejarawan dari Turki dan Armenia ditambah para pakar internasional untuk menangani masalah ini.

Krimi meninggalkan pertemuan setelah mendengar pernyataan Çavuşoğlu. “Kami melihat betapa hormat dan santainya Anda. Anda tidak suka mendengar kebenaran, kami akan terus mengatakan yang sebenarnya. Anda akan terbiasa dengan ini,” kata Çavuşoğlu.

Sehubungan dengan masalah ini, pada hari Kamis [11/04] Menteri Pertahanan Nasional Hulusi Akar menyampaikan ketidaknyamanan Turki tentang keputusan presiden Prancis kepada Menhan Perancis, Florence Parly melalui telepon.

Ketua oposisi Partai Rakyat Republik (CHP) Kemal Kılıçdaroğlu juga menyuarakan kritik tentang langkah Prancis.

Pada akun Twitter resminya, Kılıçdaroğlu mengatakan pada hari Jumat: “Presiden Prancis Macron yang menyatakan tanggal 24 April sebagai hari peringatan untuk ‘Genosida Armenia’ tidak dapat diterima. Penyelesaian masalah antara Turki dan Armenia dimungkinkan dengan dialog di antara mereka; tidak dengan “intervensi kurang ajar” pihak ketiga.

Şentop juga mengkritik pengesahan mosi Parlemen Italia untuk mengakui peristiwa 1915 di Armenia sebagai “genosida,” mencatat bahwa parlemen tersebut mengeksploitasi sejarah dan hukum dengan berusaha memberikan keputusan yang memposisikan dirinya sebagai pengadilan internasional.

“Kami ingin mengingatkan Italia tentang perannya dalam Perang Dunia II.” Merujuk pada kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Italia selama perang dunia kedua.

Proposal untuk mengakui peristiwa 1915 di Armenia sebagai “genosida” telah dipilih pada hari Rabu dan mosi tersebut disetujui oleh 382 suara tanpa ada yang menentang dan 43 abstain.

Keputusan itu menghadapi reaksi keras dari Ankara. Para pejabat Turki mengatakan langkah tersebut didorong oleh agenda politik.

Kementerian Luar Negeri mengatakan dalam sebuah pernyataan, “Mosi Dewan Perwakilan Rakyat Italia tanggal 10 April 2019, adalah contoh baru dari penggunaan klaim Armenia sebagai alat untuk kepentingan politik dalam negeri.”

Kementerian mencatat bahwa proposal tersebut disiapkan oleh partai sayap kanan Italia Lega Nord.

Sementara itu secara terpisah, Ibrahim Kalin dari Juru Bicara Kepresidenan Turki mengatakan, “Kami mengutuk dan menolak upaya Macron, yang sedang menghadapi masalah serius politik di negaranya sendiri, lalu mencoba menyelamatkan diri dengan mengangkat genosida menjadi materi politik,”

Facebook Comments

Leave a Response

error: Content is protected !!