Para korban selamat mengenang peristiwa Upaya Kudeta 15 Juli

TURKINESIA.NET – ISTANBUL. Pada peringatan ketiga kudeta Turki 2016 yang digagalkan, orang-orang yang selamat dari upaya pengkhianatan itu mengingat kembali kisah nyata pertempuran mereka melawan para pembelot selama malam 15 Juli.

Bangsa Turki melakukan pertarungan bersejarah pada 15 Juli 2016, setelah Presiden Recep Tayyip Erdogan menyerukan untuk mempertahankan demokrasi.

Pada malam tersebut, sebanyak 251 orang gugur dan hampir 2.200 lainnya terluka dalam upaya mempertahankan demokrasi nasional.

 

Tiga tahun kemudian, rakyat Turki masih trauma

Bayram Saglam – yang termasuk di antara 2.200 orang yang terluka – ditembak di kaki pada malam kudeta. Malam itu Bayram bersama dengan dua temannya, di Sariyer, Istanbul dalam perjuangan mereka untuk demokrasi.

Berbicara kepada Anadolu Agency di lingkungan Istinye tempat dia ditembak, Saglam, ayah dua anak, mengatakan bahwa dia turun ke jalan bersama-sama dengan teman-teman dan tetangganya setelah mendengar seruan dari Presiden Erdogan.

“Kami, sebagai orang Istinye, memegang bendera Turki yang besar. Kami sekitar 1.000 orang dan meneriakkan slogan-slogan seperti ‘Tentara harus kembali ke pos militer. Tugas Anda bukan untuk melakukan kudeta, ‘sambil berteriak’ Allahu Akbar” katanya.

Saat menceritakan bagaimana dia terluka, Bayram berkata: “Saya mendengar suara tembakan tiba-tiba dan jatuh. Saya berbaring di tanah di tengah jalan. Saya ditembak di kaki.”

Halil Gram, 49 tahun, korban lainnya yang selamat bergegas membantunya.

“Dia [Halil Gram] hendak menarikku ke samping, tetapi mereka [komplotan kudeta] juga menembak kakinya. Teroris yang mengenakan seragam militer menembak semua yang datang meminta bantuan,” kata Saglam.

 

Komplotan kudeta memembaki warga secara membabi buta

Basir Dogan, 73, juga terkena peluru ketika dia mencoba untuk membawa teman-temannya yang terluka, Bayram dan Halil, ke mobil.

Bayram berkata: “Pada malam itu, para pengkhianat itu melakukan yang terbaik untuk memecah belah bangsa. Mereka memberondong orang-orang yang hanya membawa bendera Turki dengan peluru.”

Dia telah menjalani enam operasi sejauh ini. “Kesehatan saya belum sepenuhnya pulih. Perawatan saya masih berlangsung,” katanya.

“Kami memiliki masalah kecil [kesehatan] tetapi kami berdiri tegak, namun mereka berada di penjara. Jika Allah mengizinkan, mereka akan tinggal di sana selamanya, sampai akhir hidup mereka,” tambah korban.

Halil yang ditembak di kaki saat membantu Bayram, juga mengingat malam yang tragis itu, dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Anadolu Agency.

“Saya melihat teman saya Bayram [Saglam] tertembak. Lukanya banyak berdarah. Saya berencana untuk menutupi lukanya. Sebelum saya bisa mencapainya, mereka juga menembak kaki saya.”

“Saya tidak berpikir bahwa saya bisa keluar dari sana. Mereka memberondongkan peluru ke mana-mana,” kata Halil.

“Setelah penembakan berhenti, kami dibawa ke rumah sakit dengan mobil roti. Saya ingat bahwa saya sedang berbaring di atas roti.”

 

Semangat persatuan

“Pada saat itu, ada perasaan bahwa jika polisi di kantor polisi memberi tahu kami ‘ada pemberontakan di Bosphorus, kita perlu menyeberangi selat’, orang akan menyeberanginya dengan berenang,” tambahnya.

Lusinan orang di Istanbul juga memblokir beberapa tank pro-kudeta di berbagai distrik kota untuk mencegah tindakan kaum pemberontak. Beberapa orang berbaring hanya beberapa meter dari roda tank.

Tarik Sebik, kepala Yayasan 15 Juli yang berbasis di Istanbul, yang juga seorang saksi mata kejadian itu, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa ada semangat persatuan malam itu.

Tarik yang berada di distrik Uskudar pada malam usaha kudeta, mengatakan: “Pada saat itu, orang-orang ditembak dan kami membawa yang terluka, yang berlumuran darah.”

Tarik awalnya tidak percaya terhadap apa yang disaksikan, karena pelakunya adalah militer berseragam dan rakyat mati terbunuh di tangan mereka.

“Kami tidak percaya apa yang terjadi pada malam itu benar dan orang-orang itu terbunuh. Karena mereka adalah tentara [yang menargetkan orang yang tidak bersalah] dalam seragam militer Turki. Tidak mungkin bagi orang untuk memahami pada pandangan pertama bahwa mereka adalah pengkhianat,” katanya.

“Kami bersedih tetapi saya merasakan keberanian dan kepahlawanan serta kami menghadapi tank tanpa senjata,” kata Tarik.

Kepala yayasan tersebut menggarisbawahi pentingnya menjaga agar insiden tragis itu tetap hidup dalam ingatan publik.

“Penting untuk menjaga semangat [15 Juli] tetap hidup. Dalam hal ini, kami sedang mempersiapkan untuk mendirikan perpustakaan 15 Juli dan untuk menerbitkan majalah ‘memori kolektif’,” katanya.

Dan, para korban yang selamat berharap insiden tragis tersebut tidak terulang kembali di Turki.

Tetapi, “Jika kita menghadapi hari seperti itu sekali lagi, mereka [komplotan kudeta] akan ditanggapi sama rata,” kata Halil, dengan tegas. [Anadolu Agency]

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Share via