Komunitas Turki  di Thessaloniki tidak punya tempat ibadah dan pemakaman

TURKINESIA.NET – Sekitar 7.000 etnis Turki di Thessaloniki, kota terbesar kedua Yunani, terganggu oleh larangan membuka masjid dan kurangnya pemakaman Muslim, memaksa mereka untuk shalat di apartemen kecil dan melakukan perjalanan selama berjam-jam untuk menguburkan jenazah.

Penolakan izin dari pemerintah Yunani untuk pendirian masjid-masjid baru telah menyebabkan komunitas kecil Turki di Thessaloniki mengalami berbagai kesulitan. Sekitar 7.000 etnis Turki terpaksa beribadah di apartemen-apartemen kecil yang mereka ubah menjadi masjid dan melakukan perjalanan sejauh ratusan kilometer untuk pemakaman anggota mereka yang meninggal, karena kurangnya pemakaman Muslim di kota tersebut.

Masjid-masjid yang ada di kota, semua berasal dari era pemerintahan Ottoman di wilayah tersebut. Masjid-masjid tersebut telah ditutup atau diubah menjadi museum. Untuk sholat Jumat dan Idul Fitri, dua ibadah yang membutuhkan area luas, komunitas tersebut berkumpul di dalam sebuah apartemen kecil yang merupakan kantor dari sebuah asosiasi Muslim. Yang lain terpaksa untuk melakukan shalat itu di luar ruangan, di taman umum.

Osman İsmailoğlu, kepala Asosiasi Pendidikan dan Kebudayaan Muslim dari Makedonia dan Thrace mengatakan kepada Doğan News Agency bahwa proposal mereka untuk membuka masjid belum membuahkan hasil apa pun. İsmailoğlu, yang perserikatannya menawarkan ruang kecil ibadah bagi Muslim Turki, mengatakan otoritas Yunani membuat alasan untuk tidak membuka masjid. “Ada empat masjid di kota dan kami ingin pihak berwenang setidaknya membuka satu untuk kami. Mereka bahkan tidak mengizinkan kami untuk beribadah di sana pada hari Jumat dan sholat Idul Fitri,” katanya.

Masalah lainnya adalah kurangnya pemakaman Muslim. Masyarakat mengatakan mereka juga mengajukan alokasi untuk plot yang akan digunakan sebagai kuburan tetapi tidak berhasil. Pemakaman yang dibangun pada masa pemerintahan Ottoman sekarang menjadi tempat bagi gedung-gedung tinggi. Muslim Turki dipaksa untuk membawa jenazah almarhum keluarga terdekat mereka ke Xanthi (İskeçe) atau Komotini (Gümülcine), dua kota dengan penduduk Turki yang besar. Mereka harus melakukan perjalanan hingga 250 kilometer untuk pemakaman yang layak di sebuah kuburan di kedua kota tersebut.

Necad Ahmet, yang mengepalai Turkish Youth Union di Gümülcine mengatakan kuburan mereka sendiri telah terisi karena jenazah yang dibawa dari Thessaloniki. “Orang-orang ini memiliki masalah besar dalam menziarahi makam karena sangat jauh dari kampung halaman mereka. Beberapa orang hanya mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi setahun sekali,” kata Ahmet.

Yunani adalah tempat tinggal bagi komunitas kecil Turki yang terkonsentrasi di wilayah barat Thrace di mana Xanthi dan Komotini berada. Pemerintah Ankara dan masyarakat telah lama mengeluh karena penindasan orang Turki oleh pihak berwenang, terutama dalam hal kebebasan beragama. Pemilihan mufti, atau ulama Muslim, bagi masyarakat telah menjadi masalah yang sangat pelik bagi masyarakat karena penolakan Athena untuk mengakui para mufti terpilih.

Masalah masjid tidak terbatas pada Thessaloniki karena umat Muslim di Athena juga menginginkan masjid yang layak. Kota Yunani adalah satu-satunya ibu kota Uni Eropa tanpa masjid. Pemerintah Yunani berjanji untuk pembangunan masjid dua tahun lalu, meskipun proyek tersebut belum selesai.

Tahun lalu, Wali Kota Thessaloniki Yiannis Boutaris mengatakan kepada Anadolu Agency (AA) bahwa mereka akan mengungkap lebih banyak peninggalan Ottoman termasuk masjid dan pemandian di kota dan berencana untuk membangun sebuah museum seni Islam. “Anda tidak dapat membangun masa depan tanpa mengetahui masa lalu Anda. Apa yang kami lakukan adalah membuat sejarah ini terlihat kembali. Sejarah ini disembunyikan. Itu tersembunyi karena orang-orang Yunani itu mendapat informasi yang salah tentang orang Turki,” kata Boutaris. Walikota telah meminta Kementerian Kebudayaan Yunani mengambil alih lima bangunan bersejarah yang berasal dari periode Ottoman di kota untuk mendatangkan pariwisata. “Saya selalu mengatakan kami bersaudara dengan orang Turki. Kami memiliki sejarah yang sama dan budaya yang sama. Kami sering bertengkar, tetapi masa lalu harus ditinggalkan,” tambahnya.

Yunani, terutama bagian utara, kaya dengan warisan Turki. Namun, beberapa penguasa lokal telah lalai melindungi dan merehabilitasi banyak harta ini. Dalam beberapa tahun terakhir, warisan Islam di Yunani, termasuk masjid, dirusak oleh kelompok sayap kanan atau terbakar karena alasan yang tidak diketahui. [Daily Sabah]

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Share via