Komandan Batalion Belanda ‘Srebrenica adalah kegagalan terbesar dalam sejarah manusia’

TURKINESIA.NET – SARAJEVO. Genosida Srebrenica adalah kegagalan terbesar dalam sejarah manusia, menurut seorang komandan Belanda yang bertugas di Balkan selama masa-masa kelam itu.

Ludy de Vos adalah komandan batalion Belanda yang bertugas di pasukan penjaga perdamaian PBB untuk Srebrenica selama perang di Bosnia antara tahun 1992 dan 1995.

Vos mengunjungi Bosnia-Herzegovina pada malam peringatan ke-24 genosida Srebrenica. Dia berbagi apa yang diingatnya tentang Srebrenica dengan Anadolu Agency.

Lebih dari 8.000 pria dan anak laki-laki Muslim Bosnia terbunuh setelah pasukan Serbia Bosnia menyerang “daerah aman” Srebrenica PBB pada Juli 1995, meskipun adanya pasukan Belanda yang ditugaskan untuk bertindak sebagai penjaga perdamaian internasional.

Peristiwa di Srebrenica tidak bisa diprediksi, kata De Vos.

“Adalah tugas kami untuk memastikan keselamatan orang-orang di zona aman dan untuk menjaga warga sipil dan tentara Bosnia yang tinggal di luar zona ini dari pasukan Serbia,” kenangnya.

De Vos mengatakan bahwa banyak warga sipil meninggalkan rumah mereka di desa-desa sekitar dan mengungsi ke Srebrenica tetapi tidak cukup bantuan makanan yang mencapai wilayah itu.

‘Kami punya perasaan sesuatu yang buruk akan terjadi’

De Vos mengatakan bahwa dia menyadari bahwa segala sesuatu telah mulai berubah selama hari-harinya di Srebrenica, pasukan Serbia di dekatnya semakin kuat dan memberinya perasaan bahwa “sesuatu yang buruk akan terjadi.”

“Apa yang terjadi di Srebrenica pada Juli 1995 adalah kegagalan terbesar dalam sejarah manusia, dan khususnya komunitas internasional yang bertanggung jawab atas wilayah itu,” kata De Vos.

De Vos mengatakan dia menyesal tidak bisa tinggal sampai saat terakhir di Srebrenica.

“Srebrenica adalah tempat yang penuh kenangan bagi saya. [Bahkan] bertahun-tahun kemudian sulit untuk kembali ke sana. Apa yang terjadi di sini tidak hanya memengaruhi tentara Belanda yang bertugas di wilayah itu, tetapi juga tentara Belanda lainnya yang tidak pernah menginjakkan kaki di wilayah,” kata De Vos.

De Vos menambahkan bahwa beberapa tentara Belanda yang bertugas di Srebrenica pada waktu itu melakukan bunuh diri karena mereka menyalahkan diri mereka sendiri karena tidak dapat menghentikan genosida.

Srebrenica dikepung oleh pasukan Serbia yang berusaha merebut wilayah dari Muslim Bosnia dan Kroasia untuk membentuk negara mereka sendiri.

Dewan Keamanan PBB telah menyatakan Srebrenica sebagai “zona aman” pada musim semi 1993. Namun, pasukan Serbia yang dipimpin oleh Jenderal Ratko Mladic – yang kini menghadapi tuduhan genosida di Den Haag – menyerbu zona PBB meskipun sekitar 450 tentara Belanda berada di sana untuk melindungi warga sipil tak berdosa sebagai pasukan penjaga perdamaian PBB.

Pasukan Belanda gagal bertindak ketika pasukan Serbia menduduki daerah itu, menewaskan sekitar 2.000 pria dan anak lelaki pada 11 Juli saja. Sekitar 15.000 orang Srebrenica melarikan diri ke pegunungan di sekitarnya, tetapi pasukan Serbia memburu dan membunuh 6.000 di antara mereka di hutan. [Anadolu Agency]

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Share via