Kenang perjuangan Adnan Menderes, Erdogan ubah Yassiada menjadi Pulau Demokrasi

TURKINESIA.NET – ISTANBUL. Yassıada, salah satu dari Princes’ Islands yang terkenal karena penjara dan persidangan kudeta militer tahun 1960 diganti namanya menjadi Democracy and Freedom Island pada tahun 2013. Pulau tersebut dianggap sebagai simbol dari beberapa hari paling gelap dalam demokrasi Turki.

Pulau tersebut merupakan tempat dipenjara dan diadili Adnan Menderes, (perdana menteri pertama Turki yang terpilih secara demokratis) bersama dengan semua anggota terkemuka Partai Demokrat (DP), setelah kudeta militer 27 Mei 1960.

Atas instruksi Presiden Erdogan, sebuah proyek diluncurkan untuk menghidupkan kembali Yassiada pada tahun 2015, sebagai tempat untuk mengingat kudeta dan ketahanan demokrasi.

Pada Minggu 26 Mei 2019, dalam kunjungan Presiden Erdogan ke pulau tersebut satu hari sebelum peringatan 59 tahun kudeta 1960, ia mengatakan bahwa Pulau Demokrasi akan diresmikan di Laut Marmara dekat Istanbul pada akhir tahun ini.

Setelah berkeliling di fasilitas yang baru dibangun di pulau itu, Erdogan mengatakan bahwa pulau itu akan menampung siswa sehingga mereka dapat dididik tentang sejarah kudeta di Turki. Dia menyarankan agar pulau itu dapat digunakan sebagai tempat pertemuan penting internasional. Lebih lanjut, Erdogan juga mengatakan bahwa Turki membutuhkan lebih banyak kekuatan untuk “membuat kudeta di masa depan tidak terulang.” Fasilitas akan sepenuhnya dibuka untuk umum pada akhir tahun, Erdogan menambahkan.

Pulau tersebut akan berfungsi sebagai saksi hidup bagi sejarah karena proyek sejak tahun 2015 membantu pelestarian aula olahraga berubah menjadi ruang sidang, serta kastil kuno dan ruang bawah tanahnya. Di tempat lain, terdapat bangunan baru dibangun, seperti Mercusuar Demokrasi, suar simbolis 24 meter tinggi, Dermaga Eternity yang melambangkan kepergian politisi yang dieksekusi ke Imralı, serta sebuah monumen untuk mengenang para korban kudeta. Bangunan-bangunan tersebut disertai dengan perpustakaan, museum, ruang konferensi berkapasitas 600 kursi, tempat-tempat untuk berlakunya kembali peristiwa setelah kudeta tahun 1960 serta ruang pameran yang akan fokus pada sejarah pulau tersebut.

Tujuan utama pulau itu sekarang adalah memberikan sebuah rasa sejarah kepada pengunjung di tempat-tempat nyata di mana Menderes dan yang lainnya diadili, memberikan sebuah kesempatan untuk menghadapi masa lalu yang menyakitkan bagi negara yang melihat terjadinya lebih banyak kudeta setelah pemerintah Menderes digulingkan. Fasilitas lain di pulau itu termasuk hotel dengan 125 kamar, masjid, kafe, dan restoran yang tersebar di pulau seluas 18,3 hektar.

Menderes dan dua menterinya, Hasan Polatkan dan Fatin Rüştü Zorlu merupakan  tiga dari 15 orang yang dihukum mati pada persidangan yang diadakan di Yassıada yang merupakan zona terlarang selama beberapa dekade. Sementara 12 lainnya diampuni, hukuman mati dari tiga politisi terkemuka dilakukan di Pulau Imralı terdekat tidak lama setelah keputusan dijatuhkan oleh pengadilan militer.

Menderes adalah pendiri Partai Demokrat (DP) pada tahun 1945, yang memisahkan diri dari Partai Rakyat Republik (CHP). CHP telah berkuasa di Turki sebagai sistem partai tunggal sejak berdirinya republik. DP menang dalam pemilihan multi partai pertama pada tahun 1946. Dalam pemilihan umum tahun 1950, DP memenangkan mayoritas parlemen dan menjalankan negara sampai terjadinya kudeta militer 27 Mei 1960.

Menderes dipandang sebagai perdana menteri pertama yang dipilih secara demokratis di Turki. Dalam masa jabatannya, terjadi perubahan signifikan melawan kebijakan sekuler yang ketat pada era CHP sebelumnya. Menderez juga berhasil mereformasi ekonomi dan menyelaraskan diplomasi utama, termasuk keanggotaan Turki di NATO. DP dipandang oleh banyak orang sebagai pendahulu gerakan politik liberal-konservatif Partai Keadilan (AP) tahun 1960-an dan 1970-an, Partai Tanah Air (ANAP) tahun 1980-an dan Partai Keadilan dan Pembangunan (Partai AK) yang saat ini berkuasa di Turki.

Kudeta 1960 membuka jalan bagi kudeta dan upaya kudeta militer di masa depan. Militer Turki untuk waktu yang lama beranggapan sebagai satu-satunya penjaga demokrasi dan dengan sesukanya menggulingkan pemerintah yang tidak mereka sukai. Kudeta penting lainnya terjadi 20 tahun kemudian.

Upaya kudeta terakhir kali terjadi pada 15 Juli 2016, ketika sekelompok kecil tentara, berkomplot dengan Gülenist Terror Group (FETÖ), menewaskan 251  orang dan banyak korban terluka terluka. [Daily Sabah]

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Share via