Indonesia minta Turki relaksasi hambatan tarif kelapa sawit

TURKINESIA.NET – JAKARTA. Indonesia meminta Turki merelaksasi hambatan tarif bagi produk minyak kelapa sawit dan ban asal Indonesia masuk ke negaranya, ujar Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita.

Hambatan tarif ini, menurut Menteri Enggar membuat ekspor crude palm oil (CPO) dan produk turunannya ke Turki turun tajam.

“Padahal produk ini ekspor utama Indonesia, memainkan peranan penting menciptakan lapangan kerja dan mengatasi kemiskinan bagi sekitar 16,5 juta jiwa,” ujar Menteri Airlangga dalam Forum Bisnis Indonesia-Turki di Istanbul, Kamis [11/07].

Menurut Menteri Enggar, Turki bisa memeroleh banyak keuntungan dari perdagangan kelapa sawit dengan Indonesia. Ini karena minyak kelapa sawit merupakan minyak sayur termurah dan produktif yang juga bahan baku paling kompetitif untuk mendukung industri lainnya di Turki.

Menurut data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) perdagangan minyak kelapa sawit Indonesia beberapa tahun belakangan jatuh pada titik terendahnya dengan hanya mengirimkan produk sekitar 10 ribu ton.

Ekspor minyak kelapa sawit ke Turki pernah mencapai angka tertinggi sekitar 600 ribu ton dalam setahun.

Menurut Menteri Enggar, salah satu penyebab hambatan perdagangan Indonesia-Turki yaitu dikarenakan kedua negara belum memiliki perjanjian perdagangan bebas.

Kondisi ini berbeda jauh dengan produk CPO Malaysia yang masuk ke Turki. Sejak mempunyai perjanjian perdagangan pada 2014, ekspor produk Malaysia ke Turki sangat signifikan.

Dengan perjanjian ini, tarif masuk minyak kelapa sawit asal Malaysia turun dari 31 persen menjadi 20 persen.

Sebagai perbandingan, pada 2013, ekspor Indonesia ke Turki sudah mencapai 286 ribu ton, sedangkan Malaysia baru mencatatkan ekspornya pada angka 83,5 ribu ton.

Hanya dalam waktu beberapa tahun setelah perjanjian dagang, angka ekspor ke Turki mencapai ratusan ribu ton, jauh mengungguli Indonesia yang malah terpuruk.

Karena itu, Indonesia-Turki sepakat mempercepat penyelesaian Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Turki (IT-CEPA) diselesaikan tahun ini untuk mengatasi hambatan dan mendorong peningkatan kinerja perdagangan kedua negara.

“Penyelesaian IT-CEPA akan dilakukan secara bertahap, dimulai dari perdagangan barang agar dapat segera memperluas akses perdagangan,” ujar dia.

Menurut dia, produk Turki dan Indonesia saling melengkapi sehingga peluang untuk tumbuh cukup besar.

“Di samping produk ekspor utama seperti minyak kelapa sawit, kertas, dan tekstil; produk potensial yang saat ini diminati adalah ban, benang, dan kopi,” ujar Menteri Enggar.

Menurut dia, kondisi perekonomian di Indonesia kini sangat kondusif sehingga layak dijadikan sebagai mitra strategis dalam mengembangkan investasi dan perdagangan para pengusaha Turki.

Forum bisnis ini diikuti sekitar 90 pengusaha Turki dan Indonesia di sektor CPO, makanan olahan, bubur kertas, kertas, karet, jasa keuangan, jasa perjalanan, dan lainnya.

Perdagangan Indonesia-Turki terus mengalami penurunan sejak 2014 hingga 2016. Data Kementerian Perdagangan menunjukkan perdagangan kedua negara pada 2013 mencapai USD2,85 miliar atau sekitar Rp34,9 triliun, tapi pada 2016 tinggal USD1,02 miliar.

Pada 2015 juga turun hingga 43 persen menjadi USD1,4 miliar dari tahun sebelumnya.Ekspor Indonesia turun hampir 20 persen menjadi USD1,16 miliar dan impor dari Turki anjlok hampir 76 persen menjadi USD249,8 juta.

Presiden Joko Widodo dan Presiden Erdogan menargetkan perdagangan kedua negara meningkat hingga USD10 miliar pada 2030. [Anadolu Agency]

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Share via