Erdogan angkat peta Palestina di Majelis Umum PBB, pertanyakan apa gunanya PBB

TURKINESIA.NET – WASHINGTON. Presiden Recep Tayyip Erdoğan sambil mengangkat selembar peta karton menegaskan kembali tekad Turki untuk melawan agresi Israel yang menargetkan warga Palestina.

“Di mana perbatasan Negara Israel? Di mana tanah Israel dimulai dan berakhir? Apakah perbatasan 1948, perbatasan 1967, atau ada perbatasan lain?” kata Erdogan berapi-api di Mejelis Umum PBB ke-74 di New York pada hari Selasa [24/09].

Erdogan mempertanyakan semakin menyusutnya tanah Palestina, dari rencana pemisahan PBB tahun 1948 hingga saat ini.

“Tetapi apakah itu cukup bagi Israel? Tidak. Israel masih mau mengambil alih tanah yang tersisa,” tegasnya. “Hari ini tampaknya tidak ada kehadiran orang Palestina. Seluruh tanah adalah milik Israel,” tambahnya.

“Jika keputusan PBB dan Dewan Keamanan PBB tidak berlaku untuk Israel. Lalu apa gunanya PBB? Di mana keadilan akan ditegakkan?” Erdogan menekankan bahwa penyitaan Israel atas wilayah Palestina tidak sah.

Dia kemudian memperingatkan hadirin dengan mengatakan: “Semua aktor komunitas internasional, khususnya Perserikatan Bangsa-Bangsa, harus memberikan dukungan nyata kepada rakyat Palestina di luar janji-janji belaka.”

“Bagaimana bisa Dataran Tinggi Golan dan permukiman Tepi Barat direbut, seperti wilayah Palestina yang diduduki lainnya, di depan mata dunia jika mereka tidak berada di dalam perbatasan Negara ini?”

Erdogan juga mempertanyakan motif di balik “Kesepakatan Abad Ini” karena bertujuan untuk menghilangkan Negara dan Rakyat Palestina.

“Tujuan sebenarnya dari rencana AS adalah untuk menghilangkan prioritas negara dan rakyat Palestina,”

“Wilayah Palestina yang ditempati oleh Israel adalah tempat ketidakadilan yang paling mencolok di peta,” ucap presiden Turki itu kepada para pemimpin dunia.

“Turki akan terus mendukung rakyat Palestina yang tertindas seperti yang selalu terjadi sampai hari ini,” kata Erdogan. Dia menambahkan bahwaTurki memiliki “sikap yang jelas” tentang masalah ini.

Dia juga mengingatkan kumpulan foto seorang wanita tak berdosa yang dibunuh dengan keji oleh Israel di jalanan harus membangkitkan hati nurani semua orang yang adil.

“Jika gambar seorang wanita Palestina tidak bersalah yang dibunuh dengan keji oleh pasukan keamanan Israel di jalan hanya beberapa hari yang lalu tidak dapat membangunkan hati nurani, maka kita berada pada titik di mana kata-kata gagal,” katanya.

Erdogan menyarankan sebuah solusi pembentukan segera sebuah negara Palestina merdeka berdasarkan perbatasan 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya.

Sebelum Pemilu Israel April lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan ambisinya jika terpilih kembali akan mencaplok permukiman Yahudi di Tepi Barat yang diduduki.

Akhir Juni, Israel meresmikan sebuah situs warisan Yahudi di Yerusalem Timur. Peresmian tersebut turut dihadiri dua penasihat Presiden Donald Trump untuk Timur Tengah, Jason Greenblatt dan Duta Besar untuk Israel David Friedman – yang mengisyaratkan dukungan bagi pencaplokan Israel atas bagian-bagian kota untuk wilayah negara Palestina di masa depan.

Setelah Trump mengakui mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada Desember 2017, masalah ini dibawa ke Majelis Umum PBB melalui rancangan resolusi tentang masalah tersebut, namun diveto oleh AS.

Pada 21 Desember 2017, Majelis Umum PBB mengeluarkan rancangan resolusi bersama 128 negara lain yang mendukung, sembilan menentang dan 35 abstain, meminta AS untuk menarik keputusannya mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Israel menduduki Tepi Barat, termasuk Yerusalem timur, selama Perang Arab-Israel 1967. Mereka mencaplok seluruh kota pada tahun 1980, mengklaimnya sebagai “ibukota abadi Israel,” sebuah langkah yang tidak pernah diakui oleh komunitas internasional. Hukum internasional memandang seluruh Tepi Barat sebagai “wilayah pendudukan” dan menganggap semua permukiman Israel yang dibangun di sana ilegal.

Presiden Erdogan juga menegaskan kembali sikap Turki tentang masalah Palestina, pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi dan kematian yang mencurigakan atas Presiden Mesir pertama yang terpilih secara demokratis Mohammed Morsi.

Dia mengakhiri pidatonya dengan pesan “kebebasan, perdamaian, kemakmuran, keadilan, dan masa depan yang damai dan aman bagi semua orang.” [Daily Sabah]

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Share via