Dukungan internasional kepada Turki setelah upaya kudeta 2016

TURKINESIA.NET – ANKARA. Para pejabat dan organisasi internasional dari berbagai negara dunia mengecam upaya kudeta yang gagal di Turki. Mereka menunjukkan sikap dan dukungan kepada pemerintah serta rakyat Turki.

Setelah upaya kudeta pada 15 Juli 2016 oleh Organisasi Teroris Fetullah (FETO), banyak negara menyatakan dukungan mereka terhadap Turki dalam bentuk pernyataan yang dikeluarkan oleh pemerintah dan para pemimpin mereka.

Negara pertama yang menyatakan dukungannya adalah Bosnia-Herzegovina. Mantan Dewan Kepresidenan Bosnia-Herzegovina perwakilan etnis Bosniak, Bakir Izetbegovic, menekankan dukungannya kepada “negara sahabat Turki” dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Mantan Presiden Georgia Giorgi Kvirikashvili dan mantan Presiden Kazakh Nursultan Nazarbayev melakukan kunjungan tingkat tinggi pertama ke Turki setelah upaya kudeta.

Meskipun banyak negara Eropa mengutuk upaya kudeta, sebagian besar menghindari mengunjungi Turki untuk waktu yang lama, sementara pejabat tingkat tinggi dari Bahrain, Palestina, Qatar, Irak dan Iran secara pribadi melakukan perjalanan ke Turki.

Dewan Eropa, Parlemen Eropa, Majelis Parlemen Dewan Eropa, Majelis Parlemen Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa (OSCEPA), PBB dan Persatuan LSM (organisasi non-pemerintah) dari Dunia Islam, mengunjungi Ankara setelah upaya kudeta.

Mantan Wakil Presiden Joe Biden mengunjungi Turki lebih dari sebulan setelah fakta terungkap.

Ekstradisi Fetullah Gulen, pemimpin FETO yang berbasis di AS, kini telah menjadi masalah besar antara Ankara dan Washington.

Dalam konferensi pers dengan Erdogan, Biden meminta maaf atas kunjungan yang tertunda dan mengatakan dia ingin datang lebih awal.

Presiden Rusia Vladimir Putin adalah pemimpin asing pertama yang menghubungi Presiden Erdogan setelah upaya kudeta tersebut.

Erdogan juga melakukan percakapan telepon dengan mantan Presiden AS Barack Obama pada 19 Juli.

Obama mengutuk upaya kudeta untuk menggulingkan pemerintahan yang terpilih secara demokratis dan menyatakan dukungannya untuk demokrasi di Turki.

Presiden Erdogan melakukan percakapan melalui telepon dengan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz dan juga pejabat negera tersebut. Erdogan juga berbicara dengan mantan Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras, Kanselir Jerman Angela Merkel, Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg.

Presiden dan Perdana Menteri Republik Turki Siprus Utara – Mustafa Akinci dan Huseyin Ozgurgun, Presiden Macedonia Gjorge Ivanov, Ketua Parlemen Irak Salim al-Jabouri, Perdana Menteri Bulgaria Boyko Borisov, mantan Presiden Pemerintah Daerah Kurdi Irak Masoud Barzani, Perdana Menteri Negara Bagian Punjab Pakistan, Shahbaz Sharif, juga melakukan kunjungan ke Turki setelah upaya kudeta.

FETO dan pemimpinnya yang berbasis di AS Fetullah Gulen mengatur upaya kudeta yang dikalahkan pada 15 Juli 2016, yang menyebabkan 251 orang gugur dan hampir 2.200 terluka.

Ankara juga menuduh FETO berada di balik kampanye jangka panjang untuk menggulingkan negara melalui infiltrasi institusi Turki, khususnya militer, polisi, dan pengadilan. [Anadolu Agency]

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Share via