Bantuan kemanusiaan terbesar Ottoman untuk Irlandia saat dilanda wabah kelaparan yang menewaskan jutaan orang

TURKINESIA.NET – JEJAK OTTOMAN. Selama negosiasi Perjanjian Lausanne 1923, dikabarkan bahwa penyair dan diplomat Turki Yahya Kemal Beyatli kagum atas dukungan delegasi Irlandia terhadap delegasi Turki, berlawanan dengan sikap negatif yang diperlihatkan oleh delegasi Eropa lainnya.

Dia kemudian mendapat kesempatan untuk bertanya kepada delegasi Irlandia alasan di balik dukungannya. Delegasi Irlandia menjawab, “Setiap orang Irlandia seperti saya berkewajiban untuk melakukannya. Kami tidak melihat bantuan dan dukungan dari orang Eropa lainnya ketika kami menderita kelaparan dan paceklik, berjuang melawan kematian. Tetapi leluhur Anda mengirimi kami uang dan kapal makanan. Dalam hitungan ini, sejumlah besar orang Irlandia selamat. Kami tidak pernah bisa melupakan tangan manusiawi yang menjangkau kami di masa-masa sulit itu,”

 

Kenangan pahit

Pada tahun 1845, timbul Wabah Kelaparan Besar (The Great Hunger) di Eropa mengakibatkan lebih dari satu juta kematian. Wabah ini terjadi pada rentang waktu antara tahun 1845-1852.

Walaupun melanda seantero Eropa saat itu, dampak terparah terjadi di Irlandia dan Skotlandia yang saat itu berada di bawah kekuasaan Inggris. Akibat wabah ini jumlah penduduk Irlandia berkurangnya sebesar 20% sampai 25% akibat tingginya tingkat kematian dan emigrasi.

Di Irlandia, di mana mayoritas orang beragama Katolik, semua tanah berada di tangan sekitar 10.000 tuan tanah Inggris [Lord], banyak dari mereka tinggal di Inggris selama tahun-tahun itu. Kepemilikan tanah ini disewakan untuk 600.000 petani Irlandia. Karena tingginya kepadatan populasi, harga sewanya juga tinggi. Sebagian besar hasil panen diangkut ke Inggris.

Pada tahun 1845, 1 juta ton biji-bijian dan 258.000 domba diekspor ke Inggris. Lahan-lahan kecil disewakan kepada pekerja dengan upah kecil. Hingga 4 juta petani dan pekerja menanam kentang yang merupakan satu-satunya sumber makanan untuk mata pencaharian mereka.

Pada tahun itu pula, 1845, Irlandia menderita kelaparan hebat, seperti juga banyak negara Eropa. Kelaparan, juga dikenal sebagai Kelaparan Kentang, adalah salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Irlandia. Kelaparan muncul setelah kentang, sumber makanan utama di Irlandia, diracuni oleh jamur mikroskopis yang disebut “phytophthora infestans,” yang dibawa atau datang secara alami dari Amerika. Oleh karena itu, sepertiga dari tanaman hilang pada tahun 1845. Gagal panen ini mencapai 90 persen pada tahun berikutnya.

Kelaparan mencapai puncaknya pada tahun 1847, ketika orang Irlandia yang lapar harus makan biji untuk bertahan hidup. Tahun berikutnya ketika benih impor digunakan, setengah dari panen terbuang sia-sia. Meskipun kelaparan berakhir pada tahun 1851, sebagian besar orang Irlandia meninggal atau terpaksa untuk bermigrasi ke Amerika Serikat. Sumber lain menyebutkan bahwa bencana ini bukan famine (paceklik) tapi genoside, sebuah kejahatan yang disengaja oleh Inggris. Dengan demikian, populasi 8 juta berkurang menjadi 5 juta. Para migran tidak pernah kembali, tetapi meninggalkan cerita dan kenangan menyedihkan.

 

Tindakan Agung Sultan Abdul Majid

Meskipun tidak diminta, sultan Ottoman Sultan Abdul Majid yang dermawan dan baik hati memutuskan untuk mengirim 10.000 pound ke Irlandia sebagai sumbangan. Ini adalah isyarat yang membuat Utsmani memiliki reputasi kedermawanan di seluruh dunia.

Meskipun Inggris Raya adalah negara terkaya di dunia pada waktu itu, Ratu Victoria kurang murah hati kepada rakyatnya, bangsa Irlandia. Sang Ratu hanya memberikan 2.000 pound kepada Irlandia di tengah cengkeraman kelaparan. Selain itu, untuk melindungi reputasinya, London meminta pemerintah Ottoman untuk mengurangi jumlahnya menjadi hanya 1.000 pound. Di samping 1.000 pound, sultan kemudian mengirim tiga perahu layar penuh makanan, obat-obatan dan biji-bijian.

Pada saat itu, Irlandia adalah koloni Inggris Raya. Pemerintah Inggris tidak mengizinkan kapal bantuan Ottoman untuk berlabuh di dekat pelabuhan Dublin. Kemudian kapal mendekati pelabuhan Drogheda, yang terletak 30 mil jauhnya, dan menjatuhkan muatan di sana.

Di saat pemerintah Ottoman mengulurkan tangan untuk membantu negara miskin yang letaknya 4.000 kilometer jauhnya, dan kepada orang-orang yang bahkan bukan dari agama mereka sendiri, adalah tindakan kemurahan hati yang belum pernah terjadi sebelumnya, juga mengejutkan bahwa pemerintah Inggris memblokir bantuan ke suatu negara yang berada di bawah kedaulatannya.

 

Simbol bulan sabit dan bintang

Hingga kini peristiwa bersejarah itu masih sangat membekas dihati masyarakat Irlandia, terutama bagi mereka yang tinggal disekitar pelabuhan Drogheda. Dan sejak peristiwa itu pula masyarakat Irlandia menganggap Turki seperti saudara sendiri, sehingga tak jarang siapapun yang pernah berkunjung ke Irlandia khususnya ke Drogheda dapat dengan mudah menyaksikan hal-hal yang bernuansa Turki, bahkan salah satu club sepak bola Irlandia Drogheda United menjadikan lambang kesulitan Ottoman sebagai lambang clubnya, sebagai penghormatan terhadap kekhalifaan Ottoman Turki. []

Saat ini, surat penghargaan dari bangsawan dan rakyat Irlandia kepada Sultan Ottoman ada di arsip Istana Topkapi. Dalam surat ini, kutipannya berbunyi: “Sebagai bangsawan dan rakyat Irlandia, kami, yang bertanda tangan di bawah ini, menyampaikan rasa terima kasih kami yang sebesar-besarnya atas kedermawanan dan minat yang ditunjukkan kepada orang-orang yang menderita dan berduka di Irlandia oleh Yang Mulia [Sultan Abdül Majid], dan kami ingin mengucapkan terima kasih atas sumbangan dermawan sebesar 1.000 pound yang dikirim untuk memenuhi kebutuhan rakyat Irlandia dan meringankan penderitaan mereka.”

Irlandia tidak melupakan kebaikan orang-orang Ottoman yang tinggal bermil-mil jauhnya dari mereka. Sebuah Klub Sepak Bola Drogheda didirikan pada tahun 1919. Klub tersebut memasang bintang dan bulan sabit pada lambang mereka.

Pada bulan Mei 2006, Kotamadya Drogheda yang merayakan hari jadinya yang ke 800, menaruh plakat ucapan terima kasih di dinding gedung kota (sekarang Westcourt Hotel) untuk menghargai ingatan akan kejadian ini. Gedung tersebut menampung para pelaut Utsmaniyah yang membawa bantuan 150 tahun lalu pada waktu itu. Beberapa baris pada plak ini mengungkapkan kedermawanan Sultan Abdul Majid.

Pada upacara tersebut, Walikota Drogheda Alderman Frank Goddfrey berkata, “Saya berharap bahwa plakat terima kasih akan menjadi simbol persahabatan antara rakyat kedua negara.”

Direktur Great Hunger Museum Irlandia juga menekankan bahwa mereka berterima kasih kepada orang-orang Turki dan Kekaisaran Ottoman.

Presiden Irlandia Mary McAleese, Pada Maret 2010 mengatakan, Turki mempunyai kaitan historis yang erat dengan Irlandia, meski secara geografis letaknya berjauhan. Ungkapan McAleese itu merujuk pada bantuan bangsa Turki kepada Irlandia selama Musim Kelaparan pada tahun 1847.

“Sultan Ottoman mengirimkan tiga buah kapal, yang penuh dengan bahan makanan, melalui pelabuhan-pelabuhan Irlandia di Drogheda. Bangsa Irlandia tidak pernah melupakan inisiatif kemurahan hati ini,” ungkap McAleese .

Ia juga menyatakan, simbol-simbol pada bendera Turki, bulan sabit dan bintang, telah menjadi simbol-simbol di negara itu. “Orang-orang Irlandia tidak pernah melupakan kemurahan hati yang langka ini. Simbol-simbol pada bendera Anda, bintang dan bulan sabit yang indah ini, menjadi simbol kota [di Irlandia]. Kami bahkan melihat simbol-simbol Turki yang indah ini dalam seragam tim sepak bola,” ucap McAleese.

McAleese juga menyatakan dukungannya agar Turki bisa memiliki keanggotaan penuh Uni Eropa.

Seorang sutradara Turki, Omer Sarikaya, yang tergugah dengan kisah tersebut mencoba mengangkatnya ke layar lebar. Sarikaya menghabiskan dua tahun untuk meneliti cerita itu dan bertekad untuk membawanya ke layar lebar. Keuntungan dari film berjudul “Femine” tersebut akan disumbangkan ke UNICEF.

Sumber:

-Ekrem Buğra Ekinci, Daily Sabah, 21-04-2017

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Share via