Anak penjual gorengan dari Sumenep terima penghargaan Presiden Erdogan

TURKINESIA.NET – ANKARA. Mahasiswa Indonesia kembali mengukir prestasi taraf internasional. Kali ini Imam Syafiie, mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Ankara asal Sumenep dipilih oleh Turkiye Burslari (YTB) sebagai pembicara dalam pidato kelulusan. Imam tampil berbicara langsung di hadapan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan ribuan mahasiswa asing dari berbagai negara.

Sebagaimana dilansir dari Jawa Pos Radar Madura, Imam dinobatkan sebagai salah satu mahasiswa berprestasi dari sekitar 19 mahasiswa Internasional di The 8th International Student Graduation Ceremony, sebuah upacara wisuda tahunan mahasiswa internasional yang diprakarsai oleh YTB dan Turkey Scholarship.

Imam berkesempatan kuliah di Turki melalui jalur beasiswa YTB pada 2014. Sebelum menempuh pendidikan di perguruan tinggi, dia masuk kelas persiapan bahasa Turki selama setahun. Kemudian, pada 2015 baru mulai kuliah di Universitas Ankara. Pemuda asal Desa Sera Timur, Kecamatan Bluto, Sumenep, itu tercatat sebagai mahasiswa di Fakultas Bahasa, Sejarah dan Geografi, jurusan Ilmu Sejarah.

”Kuliah saya 100 persen menggunakan bahasa Turki. Dan dianggap sebagai salah satu jurusan yang susah karena Full-Turkish,” ungkap mahasiswa kelahiran Sumenep, 4 April 1994 itu.

Ada ribuan mahasiswa asing yang kuliah di Turki melalui jalur beasiswa dari YTB. Setiap akhir tahun akademik, ada wisuda khusus bagi mahasiswa asing. Tahun 2019 kali ini merupakan wisuda ke-8. Dalam hajatan tahunan ini, kata Imam, biasanya YTB melakukan asesmen bagi mahasiswa yang berhasil di bidang akademik. Dilihat berdasarkan nilai dan track record setiap mahasiswa selama masa studi.

Sekitar tiga pekan sebelum wisuda, dia dihubungi oleh YTB. Imam ditanyakan terkait status studinya akan lulus atau tidak. Usai dihubungi, YTB memberi tahu jika Imam merupakan salah satu mahasiswa berprestasi. Dia diminta untuk ikut shooting film pendek bersama mahasiswa asing dari Afrika, India, Pakistan dan Georgia untuk memberikan pidato kelulusan mewakili seluruh wisudawan yang akan ditampilkan ketika wisuda digelar. Dalam video itu ia menyampaikan mengenai kekayaan alam serta potensi yang dimiliki masing-masing negara.

“Awalnya saya ragu dari sekian banyak mahasiswa (yüksek lisans) master dan doktoral, mengapa justru saya yang lisans (sarjana) ditunjuk pihak YTB untuk memberikan pidato kelulusan,” ujarnya, Jumat, 5 Juli 2019, sebagaimana dilansir dari Medcom.

Ia mengaku bangga bisa membawa nama Indonesia di ajang tahunan seremoni wisuda terbesar di Turki. “Walau saya dari Indonesia, pidato yang saya sampaikan sifatnya mewakili seluruh wisudawan dari berbagai negara. Bukan mewakili Indonesia. Pihak YTB percaya dan saya diamanahi untuk berbicara di podium,” kata dia.

Saat diwisuda, Imam juga mendapat piagam penghargaan seperti yang diterima mahasiswa asing berprestasi pada umumnya. Hanya, penghargaan yang diterima kali ini diberikan langsung oleh Presiden Republik Turki Recep Tayyip Erdogan. Presiden juga memberikan hadiah kepadanya kala itu.

Sebelum ke Turki, sejumlah tingkatan pendidikan dilaluinya. Imam pernah menempuh pendidikan di MI Tarbiyatul Athfal, MTs Nurul Islam, dan MA Nurul Islam Bluto. Selama menjadi mahasiswa di Universitas Ankara, dia juga pernah mendapat kesempatan Awardee Erasmus+Student Exchange Programme di Nicolaus Copernicus University, Torun, Polandia di 2017 selama satu semester. Program dari dana hibah Uni Eropa.

Selama di Turki, dia juga membagi waktu untuk aktif di organisasi. Bahkan, Imam pernah menjabat Bidang Keilmuan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Ankara 2015–2016. Kemudian 2017–2018 dipercaya menjadi sekretaris jenderal PPI Turki.

Putra Moh. Kutsi dan Endang Rahayu ini merupakan kakak dari Nadia Salsabila dan Haidar El-Ghazi. Selama kuliah, tidak mengecewakan hati orang tua dan keluarga menjadi motivasinya. Sebab, Imam menyadari tidak bisa sampai di titik saat ini tanpa perjuangan kedua orang tua. ”Ibu saya sebagai ibu rumah tangga sambil jualan gorengan. Bapak, merantau ke Bali jualan bakso,” ujarnya.

Dia mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tuanya yang tanpa lelah mendukung. Serta guru-guru selama menempuh pelajaran di sekolah yang tiada henti memberikan ilmu dan pendidikan. ”Terima kasih tak terhingga atas setiap doa dan dukungannya,” ucap Imam.

Imam mengaku bercita-cita menggali lebih dalam sejarah Indonesia. Itu terwujud dalam tugas akhirnya tugas akhir dengan membuat kompilasi bibliografi tentang sumber-sumber yang bisa dipakai untuk meneliti hubungan Kesultanan Turki Utsmani-Indonesia.

“Tujuan saya membuat kompilasi sumber ini untuk membantu peneliti Indonesia maupun Turki yang ingin lebih dalam membahas mengenai hubungan kedua belah pihak di masa lalu,” ujar mahasiswa yang menghabiskan masa kecilnya di Madura itu.

Pesan Presiden Erdogan

Presiden Erdogan yang turut menghadiri wisuda tersebut menyampaikan pesan dan nasehatnya, “Kita semua harus bekerja bersama tanpa istirahat sampai kita membangun tatanan global di mana hati nurani, etika, belas kasihan dan keadilan berlaku. Hanya dengan cara ini kita dapat meninggalkan warisan kepada generasi berikutnya yang kita akan diingat (oleh mereka) dengan rasa syukur.”

“Hampir 147 ribu siswa telah mendaftar secara global untuk memperoleh Beasiswa Turki tahun ini saja,” kata Presiden Erdogan, menambahkan bahwa kenyataannya sebagian besar aplikasi berasal dari negara-negara seperti Suriah, Palestina, Afghanistan, Yaman, Irak, Somalia dan Myanmar, yang berhubungan dengan masalah serius, menunjukkan bahwa program beasiswa tersebut telah mencapai tujuan utamanya.

“Berkat kemenangan kita yang telah kita capai dalam diplomasi dan juga ekonomi, saat ini ada Turki yang merangkul perjuangan Palestina, mengulurkan tangan membantu ke Afrika, dan berdiri bersama saudara-saudaranya di Asia Tengah dan Balkan,”

Presiden Erdogan melanjutkan dengan menambahkan: “Kami bekerja untuk menjadi suara semua teman dan saudara kita serta diri kita sendiri di mana pun, dari PBB dan G20 hingga NATO dan banyak platform kerjasama internasional. Kami akan, insya Allah, mempertahankan sikap bermartabat kami hingga akhir, untuk kami dan teman-teman kami.”

“Kami sama sekali tidak akan melakukan kompromi pada aturan hukum, demokrasi, etika dan legitimasi sambil memerangi ketidakadilan melawan Turki,”

Presiden menekankan lebih lanjut, dan menambahkan: “Terinspirasi oleh sejarah kami terdahulu, kami menganggap pendidikan sebagai yang cara paling efektif untuk memutus rantai perbudakan modern yang tidak terlihat. Dengan pemahaman ini, kami menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama bagi kami dan Anda, saudara dan saudari kami.”

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Share via