7 faktor kekalahan Partai AK di Pilkada Istanbul, Ankara dan Izmir

Oleh : Ahmad Azam Ab Rahman

Pertama, serangan ekonomi dan mata uang Lira oleh Amerika Serikat mengakibatkan ekonomi Turki menurun, inflasi naik hingga 30%, Lira jatuh hingga 5% berbanding US Dollar. Kejatuhan ekonomi ini mempengaruhi kehidupan rakyat Turki keseluruhannya terutama di kota-kota utama seperti Istanbul, Ankara dan Izmir.

Kedua, penduduk Istanbul berjumlah 16 juta sangat berimbas dengan kejatuhan ekonomi ini, dan pemilih labil memilih untuk menyalahkan Presiden Erdoğan dan administrasinya. ‘Urban mentality’ banyak mempengaruhi keputusan Pemilu Istanbul kali ini. Ini dapat digambarkan dengan Ekrem Imamoğlu berjaya memenangi 54.03% berbanding Binali Yildirim 45.09%, serta menang 28 distrik dari 39 daerah berbanding 16 daerah dalam Pemilu 31 March yang lalu. Beliau juga berjaya menambah suara popular dari 13,729 ke 777,581, suatu lonjakkan yang besar berbanding suara Binali Yildirim.

Ketiga, faktor generasi muda juga memberi dampak besar kekalahan AK Parti. Bagi mereka Imamoğlu yang berumur 49 tahun lebih mempunyai daya tarik generasi berbanding Binali yang berumur 64 tahun dan Erdoğan 65 tahun. Selera anak muda ialah ingin mencoba sesuatu yang baru adalah fenomena yang berlaku di mana-mana.

Keempat, politik Turki banyak dipengaruhi oleh ketokohan pemimpin. Pemilu Istanbul bagi penduduk Istanbul yang lebih ‘canggih’ dan berpengetahuan, ialah memilih antara Ekrem Imamoğlu dari CHP atau Recep Tayyib Erdoğan dari AK Partai dan bukan Binali Yildirim. Untuk pertama kali CHP berhasil menampilkan tokoh politik yang bukan anti agama malah inklusif dalam personaliti Imamoğlu. Difahamkan Imamoğlu (terjemahan Melayu, anak Imam) shalat dan berpuasa di bulan Ramadhan. Ini suatu yang agak luar biasa bagi sebuah Partai yang sejarahnya anti Islam. Bagi mereka Erdoğan sudah terlalu lama memerintah sejak tahun 2003 dan tiba masa untuk pembaharuan.

Kelima, dukungan Barat terhadap Partai oposisi melalui dukungan NGO-nya selain bantuan dana banyak memberi kekuatan strategi dan logistik kepada Partai oposisi. Bagi Barat, politik Islam Erdoğan bakal menimbulkan masalah kestabilan politik khususnya di Eropa.

Keenam, strategi 3 Phobia oleh Media Barat iaitu Islamophobia,Turkophobia dan Erdoğanophobia telah berhasil mengekalkan pengaruh Sekuler Turki dan menghalang politik Islam Ummatik yang dipelopori Erdoğan dari menguasai politik Turki keseluruhannya. Bagi Imamoğlu kemenangannya ini ialah ‘a new beginning’, suatu permulaan untuk menjatuhkan AK Partai yang dituduh sebagai semakin otokratik dan anti demokrasi, naratif Barat terhadap Erdoğan.

Ketujuh, keretakan dalaman AK Partai bukanlah suatu rahsia lagi. Dengan terpinggirnya pengasas Partai , Abdullah Gül dan perletakkan jawatan secara paksa sebagai Perdana Menteri terhadap Dr Ahmed Davutoğlu serta serangan Saadet Partaisi yang makin kuat telah memberi kesan retak dalaman yang semakin parah. Generasi pengasas AK Partai juga makin tersisih dan digantikan dengan generasi muda yang penuh ghairah tetapi belum ‘tested’ dalam asam garam perjuangan. Erdoğan kena melakukan sesuatu yang drastik bagi menanggani keretakan politik dalaman ini.

Bagaimana kita harus bersikap?

Pertama, apapun yang berlaku, Erdoğan masih lagi relevan dalam politik membebaskan dunia islam dari cengkaman Barat menjelang 100 runtuhnya Khilafah Uthmaniyyah pada 2024. Beliau lah antara pemimpin Islam setakat ini yang berani dan mempunyai cita-cita dan wawasan untuk Islam kembali menjadi antara kuasa baru dunia. Serangan ekonomi terhadap Turki menggambarkan betapa politik Erdoğan memberi pengaruh kepada dunia.

Kedua, gagasan kembali kepada zaman Kekhalifahan bukan bermakna kembali ke zaman Khilafah Uthmaniyyah, tetapi gabungan negara-negara Islam yang mempunyai cita-cita dan misi Tahriri (pembebasan) untuk bebas dari cengkaman dan perhambaan Barat dan melaksanakan politik Islam keummatan dan bersatu.

Ketiga, kita mengharap agar dilakukan muhasabah yang sesungguhnya oleh Erdoğan dan AK Partai, cari titik kelemahan, berani mengaku kesilapan, santuni perbedaan pandangan dan pendapat, amalkan politik inklusif, satukan semua partai yang mempunyai cita-cita Islami.

Keempat, dunia Islam berada di persimpangan. Di kala Politik Zionisme semakin menampakkkan taringnya, Erdoğan di satu pihak mencoba untuk mensukseskan Misi Pembebasan, namun di satu pihak pula ingin terus mempertahankan status quo, menjadi boneka dan hamba suruhan penjajah Barat, malah memusuhi Turki dan Erdoğan.

Kepada Allah kita berserah, semoga fajar akan menyinsing jua akhirnya. Semoga kita terus berada di atas siratul mustaqim hendaknya.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Share via